Monday, 23 January 2017

JANGAN TAKUT DI KRITIK

Hai, ketemu again di challenge hari ke 6 kali ini.
Untuk tantangan kali ini sebenarnya tanpa ada konsep (hehehe). Mungkin karena kesibukan pula, challenge kali ini terasa sangat berat (maaf kan kebanyakan bikin alasan). Tapi yaudah kita langsung kembali ke Laptop !



Di remehkan orang lain. Mungkin kalimat ini akrab sekali bagi kalian yang sedang merintis hidup. Entah di bidang akademik, pekerjaan atau bahkan di kehidupan sehari-hari. Tapi kali ini aku akan membagikan pengalaman ku di remehkan orang lain, meskipun hal yang di remehkan adalah suatu kebanggan bagiku.


Sejak kecil aku hobi membaca. Dari umur 2 tahun aku sudah di perkenalkan ibuku dengan buku. Kalau ibarat kata anak-anak sebayaku menganggap mainannya adalah boneka, mobil-mobilan atau robot, namun tidak denganku. Buku adalah salah satu mainan yang selalu menemani di kala bosan. Walau akhirnya gambar-gambar di buku itu aku gunting-gunting dan ku tempelkan hingga menjadi cerita baru yang ku rangkai sendiri.

Karena sejak kecil aku sudah akrab dengan buku, maka sejak kelas satu sekolah dasar aku mulai belajar menulis cerita. Entah cerita fabel ataupun fantasi. Kadang majalah bobo jadi inspirasi untuk menulis. Dan pernah berencana juga mengirimkan salah satu hasil karyaku ke redaksinya. Namun tak ada dukungan sama sekali dari orang tua, ya mungkin karena mereka kurang mengerti keinginanku saat itu.


Pernah waktu kelas 4 SD aku membuat sebuah cerpen yang aku kumpulkan ke mading sekolah, namun tak seorang pun peduli dengan cerpen buatanku. Aku fikir saat mungkin karena tulisanku terlalu buruk. Bahkan ada seorang temanku yang mengejekku karena aku terlalu bangga bahwa saat itu aku bisa membuat cerpen hasil karyaku sendiri. “Semua orang juga bisa nulis gitu, yun. Kenapa kamu bangga banget?”, katanya. Ah, saat itu terasa sangat menyedihkan bagiku. Kegalauan anak umur 9 tahun dan membuatku patah semangat.

Mulai saat itu aku sering berlatih menulis sendiri. Namun aku selalu ragu untuk menampilkannya ke hadapan orang banyak. Ya karena ketidak percayaan diriku dan terlalu takut di kritik, dan itu berlangsung sangat lama. Hingga aku kuliah di semester 4 aku mulai aktif menulis lagi dan mulai mengikuti komunitas-komunitas menulis yang ada di media sosial. Awalnya aku merasa bahwa tulisanku terlalu buruk untuk di eksposkan ke publik. Tapi setelah aku mulai belajar, aku sadar untuk menghasilkan sebuah karya yang bagus kita perlu latihan yang keras dan kritikan pedas dari orang lain. Jadi, mulai saat itu aku memulai membuka diriku dan meyakinkan kalau aku harus bangga bahwa aku selalu berlatih walau tulisanku tak sebagus milik mereka.


Ya, kadang kita harus membuka mata lebih lebar lagi untuk melihat dunia dari berbagai sisi. Sebuah kritikan takkan mampu menggoyahkan ketika kita bisa melihat segalanya jadi lebih indah.

Sekian dulu share pengalaman dariku mengenai hal dimana kamu pernah membanggakan sesuatu sementara orang lain justru meremehkan di #10DaysKF. Semoga menjadi inspirasi bagi kalian yang sama-sama sedang belajar menulis. See you next day, guys…


JANGAN TAKUT DI KRITIK

Hai, ketemu again di challenge hari ke 6 kali ini.

Sunday, 22 January 2017

Film Paling Berkesan Versi Aku

Akhirnya sudah terlewati juga setengah dari challenge ini. Ya ini challenge ke 5 dari #KampusFiksi 10 Day Writing Challenge.

Kali ini akan membahas tentang 3 Film yang paling berkesan. Yuk langsung aja.
Kalau ngomong-ngomong soal film sebenarnya aku salah satu yang hobi banget nonton, baik yang film produksi dalam negeri atau pun luar. Karena kali ini kita bakal ngomongin film yang paling berkesan apalagi cuma dibatasi 3 film aja,ya udah ini dia rangkuman film paling berkesan versi aku:

1.      Keluarga Cemara




“Harta yang paling berharga adalah keluarga
Istana yang paling indah adalah keluarga
Puisi yang paling bermakna adalah keluarga
Mutiara tiada tara adalah keluarga”


Hayoo.. siapa yang baca sambil nyanyi? Ya, salah satu soundtrack drama keluarga yang bikin terngiang-ngiang bagi anak generasi 90 an. Keluarga Cemara, sinetron yang dulu sangat di gandrungi mamak ketika aku kecil. Sebenarnya aku juga nggak begitu ingat bagaimana ceritanya,tapi kalau misal di tanya mengapa drama ini sangat berkesan alasannya kalau ingat film ini jadi inget kenangan masa kecil di saat sore hari sambil menunggu kepulangan bapak dari tempat kerja. Ya sinetron ini yang jadi teman ketika mamak dan aku menyingkirkan kebosanan. Sederhana tapi punya kesan.

2.      Hearty Paws



Siapa yang pernah nonton film ini? Pasti deh ada yang sampai mewek bombay gara-gara nonton ini film. Film yang menceritakan tentang anjing peliharaan yang tidak mampu melindungi tuannya dari kematian. Emosi kalian bakal diaduk-aduk dengan jalan cerita film ini, apalagi melihat kesetiaan si anjing peliharaan kepada tuannya. Pokoknya film ini satu-satunya yang bikin nagis dari awal sampai akhir.

3.      Laskar Pelangi



Film yang diangkat dari novel dengan judul yang sama ini masuk ke dalam tontonan yang paling berkesan versi aku. Jalan ceritanya sederhana, tapi banyak kesan dan pesan yang disampaikan. Menonton film ini membuat moodbooster untuk meraih mimpi menjadi menggebu-gebu tanpa memandang keadaan. Film yang bagus bagi yang butuh suntikan motivasi.

Cukup sekian dulu ya film yang berkesan yang kita bahas kali ini. Semoga teman-teman yang baca tulisanku ini bisa mengambil hal yang baik dari review film berkesan versi aku. Ya, #10DaysKF untuk hari ke 5 sudah tuntas. Sampai ketemu esok hari, guys..

Film Paling Berkesan Versi Aku

Akhirnya sudah terlewati juga setengah dari challenge ini. Ya ini challenge ke 5 dari #KampusFiksi 10 Day Writing Challenge.

Saturday, 21 January 2017

Pertama Kali Ku Melihatmu



Akhirnya bisa juga menyempatkan diri ke warnet untuk menunaikan challenge ke empat dari #KampusFiksi  10 Days Writing Challenge.


Untuk challenge kali ini tergolong agak susah diungkapkan karena ya takut mengingat masa lalu (ceileh). Tapi namanya juga kita ikutan challenge, ya udah sikatt..

Berhubung tema kali ini disuruh menceritakan masa pertama kali bertemu dengan “Dia“ ya sudah kita cerita saja kejadian masa lalu. Tapi loh, “Dia”nya yang mana? Jadi bingung mau nyeritain yang mana (hehehe). Mungkin aku akan menceritakan sosok laki-laki pertama yang bisa membuatku tertarik mengenal apa itu cinta.


Sekitar tahun 2009 ketika aku masih menjalani kehidupanku dengan seragam putih-biru khas SMP. Saat itu aku kelas 9 atau kelas tertinggi ditingkatan SMP. Kala itu kebetulan aku masuk di kelas Favorit di antara kelas-kelas lainnya. Dan untuk ruangan kelasku pun adalah ruang yang paling strategis di antara ruang-ruang lainnya yang ada di sekolahku. Ya mungkin karena kelas ini kelas terdekat dari perpustakaan, dekat dengan ruang guru bahkan dekat dengan kantin kecil. Ya, jadi dari ruang kelas ini kita hampir bisa melihat berbagai macam siswa-siswi yang mondar-mandir entah ingin ke kantor guru, ke perpustakaan ataupun ke kantin.

Hari itu, tepat hari senin setelah upacara bendera, kebetulan aku bertugas untuk mengambil buku pelajaran IPS yang ada di perpustakaan untuk dibagikan ke satu kelas. Ku ajak salah satu temanku untuk membantu membawakan buku paket. Dan seperti biasa aku ke perpustakan sambil mengusili temanku dan sempat pula aku di kejarnya sampai depan pintu perpustakaan. Namun sampai disana seketika langkahku pun terhenti karena aku hampir menabrak seseorang. Ya, dia yang akan jadi tokoh utama kali ini.

 
Sempat beberapa detik duniaku terhenti, bahkan aku menahan nafas ketika keningku hampir terasa dekat dengan bibirnya. Langkahku pun sedikit mundur karena aku terlalu takut kalau dia marah karena aku hampir menabraknya. Ya, kulihat dari dekat wajahnya. Aku tak pernah melihatnya sebelumnya, namun ketika kulihat lambang kelas di bajunya tertera angka 9 dan sama dengan lambang angka di bajuku. Ku rasa dia pun sama kagetnya dnganku, dan dia pun memberikan senyum sebelum pergi dari pandanganku. Kurasa dia murid baru dan tergelitik hati untuk  mengetahui identitasnya.

Hari-hari ku lalui di depan kelas hanya untuk menantikan kehadirannya. Kadang kulihat senyumnya yang ia tebarkan hanya ke teman akrabnya. Kurasa mereka kenal lama. Kutanyakan ke beberapa teman laki-lakiku di kelas mengenai dia. Tapi tak seorangpun teman sekelasku yang mengetahui tentang dia. Dia juga jarang nongkrong dengan teman-teman sekelasnya di warung dekat sekolah. Ku rasa dia introvert, tapi aku semakin tertarik dengannya. 

Setiap hari saat jam pulang aku langsung ke parkiran untuk menunggunya mengambil sepedanya. Kulihat kejauhan apakah dia segera pulang atau tidak. Aku berharap bisa memberanikan diri untuk bisa mengenalnya dan juga jadi teman baiknya. Namun saat itu aku terlalu malu walau hanya sekedar untuk memulai percakapan dengannya. Jadi aku hanya mengikuti dari belakang sambil mengayuh sepeda, berharap dia sekedar menyamai kecepatan sepedanya dan sepedaku dan mengobrol ketika pulang. Namun itu tak pernah terjadi.


Pernah sesekali aku mulai belajar serius agar bisa menarik perhatiannya, berharap dia sedikit menoleh ke arahku. Memang benar aku mendapatkan nilai tinggi dan namaku pun tercantum di deretan atas di papan pengumuman. Tapi tetap dia seakan enggan menoleh dan tetap diam.

Hingga sampai akhir kelulusan pun aku tak memiliki ke sempatan umtuk memulai kata dengannya. Dia terlalu diam dan seakan membangun dinding pembatas yang tinggi. Dan sampai 8 tahun berlalu pun aku tak pernah bisa mendengar suaranya, berbagi cerita dengannya ataupun sekedar jadi teman bersepedanya. Ya dia yang pernah menghentikan waktuku hingga sepersekian detik.

Nah, selesai juga ceritanya. Ngenes banget kan? Ya, kadang aku menyesal dengan sikap pemalu ku di masa lalu. Jangan bilang nggak percaya. Justru karena kejadian itu aku mulai berbah untuk sekedar percaya diri dan berani menyampaikan aspirasi di depan umum, seperti diriku yang sekarang.  Ya, karena aku nggak mau mengulang kejadian di masa lalu. Mungkin sampai dsini saja chellenge hari ke empat #10DaysKF. Semoga kita segera bertemu esok hari. See you..

Pertama Kali Ku Melihatmu



Akhirnya bisa juga menyempatkan diri ke warnet untuk menunaikan challenge ke empat dari #KampusFiksi  10 Days Writing Challenge.