Tuesday, 29 November 2016

BUNTU

Diambil dari kisah nyata percakapan antara sang penulis dengan dirinya yang lain di depan cermin...

nyomot dari google

Kalo ada yang menganggap tulisanku ini mengandung motivasi, kamu salah besar. Ini di buat atas dasar apa yang sudah aku tuliskan pada judul di atas. BUNTU.

Mungkin yang ngga tau arti dari buntu itu sendiri akan aku jelaskan. Buntu = bun-tu v tertutup (tidak dapat terus tt pintu, jalan, pipa, dsb); tertutup salah satu ujungnya (jalan, pipa, dsb); terhalang(oleh sekat dsb); tersekat; tersuntuk (tt akal,pikiran, dsb): gang-; menghadapi jalan -;. Pengertian buntu tersebut aku ambil dari kamus bahasa Indonesia offline, jadi jangan anggap aku terlalu pintar untuk mengartikan pengertian dari kata BUNTU itu tadi.

Sebagai manusia biasa ciptaan Tuhan, aku kerap kali menghadapi hal yang menyebalkan yang biasa di sebut kebuntuan. Bahkan hal yang mengerikan dari kebuntuan selalu bisa terjadi. Frustasi, kata yang tepat untuk menggambarkan hal mengerikan tadi. Aku kadang berfikir mengapa harus ada kata buntu, padahal kapasitas otak manusia seakan tak terbatas walaupun ia tersekat akan ruang yang aku namakan cangkang kepala (jangan protes akan hasil penamaan dariku).

boleh nyomot dari google lagi


Ya, coba kita kembali mengenai pengertian darikata buntu ini tadi. Setelah kita amati, mungkin kata pas yang bisa kita ambil dalam masalah ini adalah pengertian buntu : tersekat ; tersuntuk (tt akal,pikiran, dsb). Bila kita amati, kata kerja merujuk pada kejadian tersekat ataupun tersuntuk yang berarti tak ada pergerakan. Dan objeknya mengarah pada akal ataupun pikiran. Dan apabila kita simpulkan dari pengertian diatas adalah tidak adanya pergerakan karena tersekat, tersuntuk pada sebuah akal atau pikiran. Jadi, apabila kita lihat titik masalah pada kebuntuan ini manakah yang harus kita salahkan? Pergerakan atau akal?

Menelisik pada pergerakan, kita ibaratkan pada organ tubuh manusia. Apakah ada hal yang bisa mengalami keadaan stagnan atau terganggunya ruang gerak pada pergerakan tubuh seorang manusia? Jawabannya pasti ada dan itu kita lihat kembali pada konteksnya. Bila kita ambil contoh pada orang yang menyandang disabilitas, tak bisa berjalan misalnya, apakah dengan tersematnya gelar disabilitas pada orang tersebut memungkinkan selamanya ia takkan bisa berjalan, bahkan tak bisa berpindah dari tempatnya? Tidak kan. Untuk berpindah,orang tersebut bisa meminta tolong orang lain untuk memindahkan ia dari satu tempat ke tempat lain. Tak bisa berjalan? Di jaman yang serba canggih ini banyak di ciptakkan alat-alat yang bisa membantu kehidupan manusia sehari-hari, bahkan tak terkecuali orang yang memiliki keterbatasan ruang gerak sekalipun.

Jika kita ambil kesimpulan, terhambatnya pergerakan tidak bisa kita salahkan karena selalu ada cara untuk mengatasi itu semua. Sumber penyelesaiannya pun bisa bermacam-macam. Kita bisa meminta tolong orang lain (dalam hal ini kita bisa artikan orang lain sebagai mentor dalam rangka upaya agar bebas untuk bergerak) dan juga memanfaatkan keadaan sekitar(teknologi berperan besar dalam mengatasi ruang gerak karena segala informasi dapat kita akses). Jadi apalagi yang harus kita takutkan mengenai “Tak ada Pergerakan”?

Nah, apakah akal atau pemikiran yang harus kita salahkan?

Aku pernah mendengar mengenai teori bahwa manusia hanya memanfaatkan kerja otak sebesar 5% dari kapasitas otak yang ada. Sebenarnya aku sedikit percaya tidak percaya mengenai teori tersebut. Jika ditanya mengapa tidak percaya, coba kita logika : dari mana sumber perhitungan kapasitas otak tersebut? Dan bagaimana parameter dia menghitungnya? Bila saya kira-kira sendiri, dari keseluruhan tubuh manusia untuk bergerak saja manusia mungkin membutuhkan sekitar 25% dari kerja otak. Dan sekitar 45 % - 75 % untuk berfikir. Jadi setiap manusia memanfaatkan sekitar 70 % - 100% dari kemampuannya untuk berfikir dan menggerakkan anggota tubuhnya. (jangan tanya dari mana prosentasenya, karena ini cuma perkiraan saja).

Namun tak menutup kemungkinan bahwa manusia hanya memanfaatkan sebesar 5% dari seluruh kemampuan otak yang dia punya. Karena bila kita lihat pada saat ini kecanggihan teknologi makin hari semakin bertambah pesat. Tak menutup kemungkinan jika di masa yang akan datang orang-orang era superior  bisa menciptakan suatu teknologi yang bisa mematahkan keterbatasan dari sisi seorang manusia. Yang kita anggap mustahil pada saat ini bisa terjadi di masa yang akan datang.  Akan ada dimasa depan nanti manusia yang bisa terbang tanpa menggunakan alat (seperti layaknya burung) atau bakal ada manusia super power yang memiliki kekuatan di atas rata-rata seorang manusia dan bahakan bisa menembus dimensi waktu dan kembali ke masa lalu untuk sekedar melancong atau mengubah takdir. Ya, itu bisa saja terjadi ketika saat ini kita memanfaatkan sekitar 5% dari kapasitas otak kita dan kemudian memaksimalkannya menjadi 100%. Bisa saja terjadi.

Jadi, pada dasarnya kapasitas otak tak terhingga, jadi jangan berfikiran untuk menyalahkan cara kerja otak.

Jadi, mengapa bisa kebuntuan dapat menyebabkan frustasi? Faktor apa yang bisa menyebabkan kedua hal tersebut memiliki variable? Disini aku akan menjelaskan mengapa kedua hal tetrsebut memiliki variable dan yang pastinya ini menurut hasil pemikiranku sendiri, jadi jangan tuntut akan ke absahannya.

Menurutku sendiri, mengapa bisa ada kebuntuan terjadi, terutama dalam hal yang menyangkut akan kreatifitas adalah perasaan malas berfikir dan juga tak tanggap akan keadaan sekitar. Nah, kenapa perasaan malas? Bukannya malas merupakan salah satu emosi manusia yang di kendalikan oleh otak? Jangan sepenuhnya salahkan otak, salahkan diri kalian. Salah siapa menyuruh otak untuk malas berfikir.

Dan juga tidak tanggap keadaan, ini adalah penyakit umat manusia era modern yang terlalu individualis dan juga cuek dengan lingkungan sekitar. Cobalah untuk melihat segala sesuatu yang ada di dekatmu menjadi lebih dekat, dari berbeda sudut pandang, dan simpulkan ke dalam penyataan yang objektif. Mungkin secara tidak langsung kita akan melihat dunia dalam sisi lain dan lambat laun segala ide bisa tercipta.

Nah, sudah dijelaskan di awal tadi. Tulisan ini tidak mengandung motivasi, tapi memiliki maksud lain, bagaimana mencoba untuk membuka pemikiran kita. Jadilah manusia yang lebih bermanfaat untuk sekitar, jangan hanya sekedar memenuhi hampir seluruh permukaan bumi. Berbuat baiklah pada diri sendiri, jangan biarkan ia berkarat, bergeraklah dan buatlah dunia menjadi tempat damai untuk di huni. Sekian percakapan hari ini, pesan moral harap di simpulkan sendiri..

nyomot again



^^keep laughing and control of our self

BUNTU

Diambil dari kisah nyata percakapan antara sang penulis dengan dirinya yang lain di depan cermin...

Friday, 18 November 2016

AL-I’TIRAF

pengakuan hamba-Mu yang sarat akan dosa...


AL-I’TIRAF




Sadarkah kita setiap langkah yang kita injakkan dimuka bumi ini selalu memiliki makna, bahkan Tuhan sudah menyusun skenario atas setiap jengkal yang kita tinggalkan? Lalu apa saja yang kita kerjakan selama menjalani skenario itu? Ibadahkah? atau maksiatkah?

Sebagai makhluk Tuhan yang diciptakan paling sempurna, kita di berkahi akal dan juga nafsu. Dengan akal kita di beri pemikiran berbeda dari makluk lain seperti hewan atau tumbuhan. Akal menjadikan peradaban manusia di muka bumi dari waktu ke waktu mengalami kemajuan. Ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan salah satu bukti betapa majunya perabadaban manusia pada saat ini. Ilmu pengetahuan tercipta atas dasar keingintahuan manusia akan segala sesuatu yang ada dimuka bumi ini. Dan atas dasar ilmu pengetahuan ini, maka manusia mulai menciptakan teknlogi untuk menunjang kemudahan dalam hidupnya.

Lalu bagaimana dengan nafsu? Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) nafsu memiliki pengertian keinginan (kecenderungan, dorongan) hati yang kuat. Jadi disini Tuhan menganugrahi sebuah rasa ingin dalam diri manusia. Jadi apa guna “rasa ingin” yang di anugerahi oleh Tuhan ini?

Rasa ingin merupakan penggerak akal. Tanpa adanya rasa ingin, sulit sepertinya untuk sebuah akal dalam berfikir untuk menciptakan sesuatu.  Rasa ingin pula yang menciptakan sebuah pengetahuan, yang bermula atas dasar “rasa ingin tahu”.


Tuhan telah memberikan batas wajar atas rasa keingintahuan seorang manusia. Akan tetapi manusia kadang lupa akan batasan-batasan itu. Itulah yang membuat manusia kadang melupakan posisi Tuhan sebagai dzat yang mengetahui atas segala sesuatunya. Dan tak sedikit juga yang akhirnya yang merendahkan-Nya sebagai pencipta alam semesta ini dan menganggap dirinya sebagai pengganti sang khaliq. Ya, karena mereka telah melebihi batas wajar atas akal manusia yang telah ditakdirkan memiliki batasan.

***

ups.. mungkin kepotong sampai sini saja ya.. penasaran dengan lanjutannya? bisa baca cerita selengkapnya di Antalogi persembahan Kampung Blog "From Sesat to Taat" yaa... coming soon ^^

AL-I’TIRAF

pengakuan hamba-Mu yang sarat akan dosa...

Wednesday, 16 November 2016

DIMENSI

Bagaimanapun, ini semua sudah terlambat...

Dimensi




Malam itu terasa dingin, aku mulai mencoba untuk membuka mata. Kulihat sekelilingku, diseberang sana banyak orang yang berkerumun, entah apa yang mereka lakukan. Ingin aku mencari tau apa yang sedang mereka lakukan, namun badanku terlalu lemas seperti ada yang memaksa keluar hingga mati rasa. “Sial” hardikku dalam hati. Kenapa mereka terlalu sibuk mengerumuni sesuatu yang tidak jelas, sedangkan aku disini terkapar dan tak ada satu orang pun yang menolongku. Aku mencoba mencari perhatian mereka agar mereka segera menolongku, akan tetapi mereka acuh, mereka tak mendengarkanku. Ada apa gerangan? Kulihat ada seseorang yang mendekatiku dan berdiri beberapa langkah dariku, kucoba meminta tolong padanya,“Tolong aku, badanku terasa lemas dan aku tak bisa berdiri. Bisa kah kau membawaku ke rumah sakit tuan?”. Namun dia tak mendengarkanku, kulihat dia menatap nanar ke segerombolan orang yang ada di seberang, “Kau terlalu muda untuk mati sekarang nona.”, ucapnya sambil melangkah pergi.
Aku masih terkapar di tempatku karena masih lemas buatku mencoba untuk sekedar bergerak. Kulihat di seberang sana mulai berdatangan banyak polisi dan juga mobil ambulan. Polisi-polisi itu mamasang garis polisi seperti mengevakuasi sesuatu. Nampak seorang gadis muda berlumuran darah yang ditandu oleh petugas.  Sebuah kecelakaan pikirku, namun aku merasa tak asing dengan wanita yang di bawa petugas itu. Mungkinkah?

***
Matahari mulai tinggi, sinarnya malu-malu menyapa semua makhluk yang ada di muka bumi ini. Semakin ia menunjukan sinarnya, semakin ia menjadi magnet bagi orang-orang untuk keluar dan menunaikan aktivitasnya. Tak terkecuali denganku, sinar matahari kini yang memaksaku untuk membuka mataku, namun kini sinarnya tak terasakan lagi oleh kulitku. Ya, aku masih syok dengan kejadian semalam, aku terlalu takut untuk menerima kenyataan dan akhirnya aku mencoba untuk memejamkan mataku, berharap apa yang aku lihat ada sebuah mimpi belaka. Namun sayang, mungkin kali ini Tuhan tak mengabulkan keinginanku dan aku harus mulai belajar berbesar hati. Aku terbangun di trotoar, tempat yang masih sama saat aku terkapar tadi malam. Padahal aku sangat berharap ada seseorang yang menggendongku dari sana dan merebahkanku di kasur yang empuk, ya itu hanyalah angan-anganku belaka. Kulihat orang-orang lalu lalang disampingku. Mereka tak menghiraukanku dan masih asik dengan ponsel-ponsel mereka. Kulihat dengan seksama tiap orang yang lewat, “Jadi, seperti ini kah aku setiap pagi? Sibuk menatap ponselku dan tak menghiraukan sekelilingku.” Seketika aku merasa lucu sendiri melihat tingkah mereka. Mereka seperti jemaah robot yang berjalan sambil menatap ponsel mereka dan seperti di kejar jam kerja yang berjalan layaknya bom waktu. Ya aku menyesali hari kemarin dan kemarin dan kemarinnya lagi yang selalu berulang selama bertahun-tahun. Aku menyesali mengapa aku menikmati hidupku yang hanya bergulat dengan pekerjaan, memprioritaskan pekerjaan dan hidup hanya demi pekerjaan. Tapi apa artinya menyesal bila semua kini tak ada artinya lagi?
Aku pun mulai bangkit dari tempatku dan mulai berjalan menyusuri trotoar. Dan kini bingung apa yang harus kulakukan mulai hari ini. Seketika dadaku sesak dan seakan bumi akan runtuh. Aku mulai menghakimi takdirku dan menyalahkan Tuhan. Aku terlalu bingung dengan kondisiku saat ini. Padahal biasanya aku selalu bisa diandalkan. Aku selalu jadi panutan bagi anak buahku dikantor. Bahkan mereka menobatkanku sebagai calon direktur dengan masa depan yang cerah. Dengan segala keputusan dan kebijakan yang aku buat aku bahkan bisa menjadikan perusahaan tempatku bekerja menjadi superpower diantara pesaing-pesaing yang ada. Banyak pujian bahkan penghargaan dari atasanku bahkan pihak eksternal atas kerja keras yang aku raih. Namun segala pujian dan penghargaan itu kini tiada berarti, aku terlalu rapuh dan menangisi takdirku. Apa yang harus kulakukan? Bagaimana aku harus melangkah?

***
Ditengah kegundahanku tiba-tiba aku tertarik dengan sebuah kedai yang masih belum buka. Kulihat dari balik jendela kacanya ada seorang anak perempuan yang sedang menyapu lantai, kupikir dia adalah pegawai kedai itu. Meskipun masih pagi aku lihat anak itu sangat sibuk membersihkan ruangan, terlihat dari pakaiannya yang basah akan keringat. Aku tersenyum melihat itu. Anganku pun melayang ke beberapa tahun saat aku masih berstatus menjadi mahasiswi. Waktu itu bisa dibilang aku adalah orang yang sangat ambisius meskipun sampai aku bekerja dan menduduki posisiku  pun aku termasuk orang yang ambisius. Aku pun selalu ingin menjadi yang terbaik saat aku mengerjakan sesuatu. Bagaimanapun caranya meskipun aku termasuk anak dari orang tua yang kurang mampu aku selalu berupaya agar aku bisa melanjutkan pendidikanku ke jenjang yang lebih tinggi. Siang malam aku belajar demi mendapatkan beasiswa impianku, hingga kuliah pun aku bekerja siang malam agar bisa mencukupi kebutuhanku selama kuliah. Meskipun begitu aku selalu mendapatkan nilai tertinggi di kampusku dengan IPK cumlaude. Namun atas segala yang kucapai saat itu membuatku menjadi pribadi yang angkuh. Aku bahkan meremehkan keberadaan orang tuaku. Aku merasa bisa melakukan segalanya tanpa campur tangan orang  tuaku. Aku meremehkan doa ibuku setiap malam disela tahajudnya, dan aku pun menolak hasil jerih payah ayahku yang bekerja sebagai kuli bangunan demi sedikit membantu  anaknya mencukupi biaya kuliahnya. Kuhardik mereka karena merasa usaha mereka tak ada gunanya. Namun mereka tetap melanjutkan usaha mereka walaupun kuhardik berkali-kali. Aku pun tak habis fikir kenapa mereka tetap melakukan usaha tak berguna itu. Sama sekali aku tak percaya akan doa ibuku dan jerih payah ayahku yang tak seberapa itu. Aku pun segera tersadar dari lamunanku dan menyesali kesalahanku di masa lalu, dan juga aku menyesali kenapa aku harus menyesal saat ini saat semuanya terlambat?

***

Bersambung....

DIMENSI

Bagaimanapun, ini semua sudah terlambat...