Sebelumnya...Aku pun tak habis fikir kenapa mereka tetap
melakukan usaha tak berguna itu. Sama sekali aku tak percaya akan doa ibuku dan
jerih payah ayahku yang tak seberapa itu. Aku pun segera tersadar dari
lamunanku dan menyesali kesalahanku di masa lalu, dan juga aku menyesali kenapa
aku harus menyesal saat ini saat semuanya terlambat?
Matahari
semakin tinggi, sinarnya yang terik terasa sangat silau di pandanganku dan ku
putuskan untuk berteduh di sebuah pohon besar di pinggir jalan. Sebenarnya aku
berharap dapat merasakan hembusan angin akan tetapi hawa panas perkotaan padat
terasa lebih mendominasi cuaca disini. Sejenak aku memandangi jalanan macet di
depanku. Tampak beberapa pengendara mobil dan motor menyalakan klaksonnya,
bising sekali. Aku tak habis pikir kenapa mereka melakukan itu, padahal mereka
tau ketika jalanan padat dan macet sangat sulit bagi mereka untuk dapat
berkendara dengan lancar. Apakah membunyikan klakson secara membabi buta akan
menjadikan jalanan itu seketika lancar? Ah mustahil. Tetapi kini ada yang lebih
menyita perhatianku dibandingkan dengan paduan suara klakson-klakson itu.
Rombongan manusia jalanan yang kini sedang berlomba-lomba mengais rupiah
diantara pengendara mobil ataupun motor yang memburu waktu. Ya, mereka sang
pedagang minuman dingin, penjual Koran, pengamen, bahkan sang pembawa kemoceng.
Kulihat mereka tampak antusias mencari nafkah meskipun siang terlalu panas,
matahari tak bersahabat bahkan debu yang begitu mengganggu juga tak ketinggalan
bising yang rasanya bagai mengiris-iris gendang telinga. Tubuh mereka tampak
legam karena keringat dan sinar matahari, pakaian mereka terlihat dekil karena
debu yang menempel. Dan mirisnya beberapa dari mereka adalah masih mengenakan
seragam sekolah. Ya, beberapa dari sang pencari kesempatan itu adalah anak-anak
sekolah. Entah apa alasan mereka tapi kini mereka tampak bersemangat untuk
mencari sesuap nasi, terdengar juga teriakan dari mulut kecil mereka menawarkan
barang dagangan. Sedikit teriris hatiku melihat apa yang mereka lakukan. Dimana
orang tua mereka?
Lama
aku memandangi pemandangan macet di depanku dan tak terasa matahari kembali ke
peraduannya. Sinarnya yang perlahan mulai menghilang menampakkan pemandangan
yang berkesan untukku saat ini. Tak begitu terik dan menyengat seperti beberapa
jam yang lalu. Tampak menggoda diantara sinarnya yang seakan mencoba untuk
menyelip diantara gedung-gedung yang menjulang tinggi. Ya, ini adalah sore
paling berkesan diantara sore-sore yang pernah kulalui. Tampak jalanan semakin
macet karena ini adalah jam pulang kerja. Ku nikmati jalan-jalan sore ini
sambil menyusuri trotoar dan menikmati alunan klakson yang aku mulai terbiasa
akan bunyinya. Biarlah kulalui saat-saat seperti ini, toh aku takkan pernah
menikmatinya lagi. Ya, untuk saat ini aku akan berjalan sambil mengantarkan
matahari hingga benar-benar dalam peraduannya. Menikmati senja hingga menjadi
hitam.
***
Rintik
hujan mulai turun. Tampak ia membasahi aspal jalanan yang panas. Partikel debu
seakan melebur bersama tetesan air hujan dan menimbulkan bau yang seakan bisa
membius siapapun untuk mengingat masa-masa nostalgia. Aku menyebutnya aroma
hujan. Seakan terbawa suasananya, mendadak temperature bumi seakan mengahangat
dan bereaksi lembut dengan kulit. Ku nikmati malam ini dengan menari diantara
hujan dan genangannya, berlari diantara lampu jalanan yang temaram diiringi alunan
musik dari suara mesin-mesin mobil yang berderu dan sedikit andil jangkrik yang
volumenya sedikit terkalahkan. Aku kan menikmati kesempatan ini, kesempatan
untuk bermain dengan rentetan air langit.
Dan
tak hanya aku saja yang menikmati moment ini, di sepanjang jalan kulihat
beberapa muda-mudi menikmati kesempatan ini. Berusaha untuk mengukir kenangan
di setiap kesempatan yang ada. Kulihat di setiap emperan toko mereka berhenti
untuk sekedar berteduh dan mengulur waktu untuk setiap pertemuan. Namun tak
sedikit juga mereka menembus hujan walau hanya saling memayungi dengan jaket,
ah indahnya. Seketika memoriku kembali ke masa lalu, tepatnya 2 minggu yang
lalu.
***
“kamu maunya apa Ratri?”
“kamu kenapa selalu menuntut macam-macam dari aku? Kalau kamu ga suka aku seperti ini ya udah kita putus aja mas..”
“aku gak nuntut macam-macam dari kamu, Rat. Mas Cuma mau kamu sedikit nurunin ego kamu.. apa selamanya kamu mau hidup seperti ini? Terutama sikap kamu ke orang tuamu sendiri. Apa kamu mau jadi anak durhaka?”
“aku sama orang tua aku itu urusan pribadiku mas. Kamu ngga usah ngatur-ngatur. Toh mas nggak tau cerita sebenarnya. Kalau kamu nggak suka sikap aku nggak apa-apa. Sana cari perempuan lain yang sesuai keinginan kamu!”
“Rat, Mas itu sayang sama kamu. Mas itu berusaha membuka mata hati kamu kalau sikap kamu ini salah, egomu, sikapmu ke orang tua. Apa permintaan mas terlalu berat buatmu? Kamu sendiri nggak nyaman sama sikapmu, makanya kita sama-sama belajar buat berubah jadi baik. Mas juga masih banyak kurangnya sayang.”
“yaudah mas aku lagi males, mau pulang, capek.”
Akhirnya
ku akhiri pertemuanku dengan mas Andi dengan meninggalkannya sendirian di kafe.
Aku merasa kesal sekali setiap mas Andi menyinggung masalah orang tuaku. Oke,
aku memang salah selalu berprilaku kasar terhadap kedua orang tuaku, tapi tak
sedikitpun di benakku untuk berprilaku kasar ke mereka, akan tetapi aku terlalu
sulit untuk mengungkapkan sisi lain dalam diriku selain ambisi yang biasa aku
tunjukkan. Dan ajakan mas Andi untuk berubah, aku terlalu malu untuk memulainya
dan melakukannya. Entahlah aku pusing ketika di tuntut seperti itu. Tapi yang
dikatakan mas Andi memang benar, aku tidak bisa selamanya hidup seperti ini.
***
Kurasa
air mataku mulai jatuh bercampur dengan air hujan. Dadaku mulai sesak dan
kembali menyesali masa lalu. Aku rindu pada sosok mas Andi, calon suamiku.
Mungkin cuma dia satu-satunya laki-laki yang mengerti aku, sabar akan
perilakuku, dan bisa menerima segala kekuranganku. Aku merindukan tawanya, candanya dan segala
tutur katanya yang menyejukkan jiwa. Penyesalan terdalamku kenapa di pertemuan
terakhir mengapa tiada kenangan indah yang terukir, kenapa harus dengan amarah?
Aku
pun jatuh tersungkur ke tanah, ku rasa lututku terasa lemas untuk sekedar
berdiri. Kemana kali ini aku harus pergi, apa yang harus ku lakukan selanjutnya
? bahkan aku pun tak tau apa yang akan terjadi sedetik kemudian, beberapa menit
yang ada di depanku dan satu jam setelah ini? sungguh aku tak tau maksud Tuhan
mengapa memperlakukanku seperti ini.
Seketika
aku terbayang akan wajah ibuku, ayahku. Mungkin mereka adalah tujuanku
terakhir, ya kedua orang tuaku.
***
Aku pun sampai di depan
rumahku. Kulihat banyak orang yang berkumpul di depan rumahku. Beberapa aku
kenal seperti teman-teman se kantorku, teman kuliahku, namun ada juga yang tak
kukenal, ku rasa mereka adalah tetanggaku. Aku tak begitu suka bersosalisasi
jadi aku tak begitu mengenal wajah tetanggaku, namun aku terlalu bersyukur atas
kehadiran mereka saat ini.
Ku coba untuk masuk
melalui pintu depan, kulihat Lina sahabatku menangis sesenggukan bersama Eli,
di dalampun orang beramai-ramai membaca surat yasin, tak terkecuali mas Andi.
Terlihat matanya merah, dia membaca surat Yasin sambil menahan isakkannya.
Beberapa orang mencoba untuk menghampirinya sembari mengucapkan bela sungkawa.
Kulihat sekeliling,
terlihat juga ada saudara-saudaraku yang Nampak sibuk mondar-mandir menyalami
tamu yang datang. Kulihat mereka Nampak tegar. Namun kemanakah seseorang yang
aku cari?
Tak lama kemudian
datang mobil dari luar. Kulihat dari bayangan jendela mobil yang gelap wanita
tua yang tertunduk lesu. Tak kunjung keluar dari mobil itu, mungkin beliau
sedang mempersiapkan dirinya untuk menerima kenyataan. Tak berapa lama akhirnya
mulai terbukalah pintu mobil itu. Perlahan ia keluar, langkahnya gemetar,
seperti menahan sesuatu dalam dirinya. Bersamaan dituntun oleh lelaki tua yang
renta, ekspresinya tenang seperti biasa dan terlihat tegar, selalu ikhlas menjalani kehidupan.
Hatiku teriris melihat
itu semua, melihat sahabat-sahabatku, mas Andi dan juga kedua orang tuaku.
Lagi-lagi dunia seakan kembali menghakimiku, mengejekku, dan menertawaiku. Dadaku
terasa seakan dihimpit bumi. Tangisku seakan segera meledak,namun harus ku tahan.
Perlahan ibuku
mendekati tubuh yang kini kaku, dibukanya penutup kepala.nampak tubuh yang kini
sudah terbungkus rapi oleh kain kafan. Aku mencoba mengalihakan pandanganku ketempat
lain dan kini aku mulai melihat ayahku yang berdiri tegak membisu. Matanya
mulai nanar dan berusaha menahan air mata yang tak terbendung. Baru pertama
kali kulihat ayah menunjukkan ekspresi sedihnya. Terlihat sisi lain dalam
dirinya. Seketika rahasia dalam diri lelaki tangguh itu terungkap. Kulihat
tubuhnya yang mulai renta itu mendadak lunglai. Ia terduduk dan mulai mengalir
air mata yang tak pernah ia tunjukkan pada siapapun. Ia yang biasa kuat dan
tenang terlihat sangat rapuh. Aku tak pernah menyangka ayah bisa selemah itu.
Dan kini aku tak sanggup lagi. Kulihat ibu meraung-raung disamping tubuh kaku
itu dan itu membuat hatiku semakin hancur. Kuberanikan melihat wajah dari
pemilik tubuh yang kaku itu. Batinku memberontak, aku tak menerima jika tubuhku
yang kini telah tak bernyawa. Kucoba untuk meyakinkan orang-orang yang ada
disampingku, namun tak seorang pun yang menghiraukanku. Aku tak menerima
kematian ini. Aku masih hidup, namun mengapa tubuhku ada disana. Ia kini hanya
terlihat bagai seonggok mayat yang bersiap untuk membusuk, aku tak terima itu
semua. Aku terus meyakinkan orang-orang yang ada di rumahku. Mana mungkin
mereka ingin memakamkanku sedangkan aku masih berdiri diantara mereka dan
meminta pertolongan mereka?
Dan kini pun aku
menyerah atas usahaku untuk meyakinkan mereka. Apa aku harus menerima takdirku?
Dan aku mulai menerima kematianku. Kurasa kini aku menyesali perbuatan selama
hidupku. Bisa kah aku bertaubat? Aku terlalu takut masuk neraka. Tapi bagaimana
caranya? Kurasa ini semua sudah berakhir.
Dari luar terlihat
lelaki paruh baya dengan sorban putihnya mulai memasuki ruangan. Kulihat ia
sepertinya menyadari keberadaanku. Iya, dia menyadari keberadaanku. Tapi
sepertinya beliau menyuruhku untuk mengikhlaskan kepergianku. Aku pun tertunduk
lesu dan berjalan mendekati jasadku. Perasaanku campur aduk, bagaimana bisa
secepat ini aku mengalami kematian. Kulihat beberapa orang mulai membuat shaf
di depanku dan lelaki paruh baya itu sepertinya akan memimpin untuk sholat
jenazah. Dengan sigap aku berdiri dan ingin menghentikan kegiatan mereka, namun
gagal. Aku merasakan penyesalan bertubi-tubi merasakan jenazahku di sholatkan.
Padahal ketika hidup hampir setiap hari aku melalaikan sholat. Aku merasa
terlalu sibuk untuk menunaikan sholat 5 waktuku, hingga akhirnya kini aku di
sholatkan aku ingin kembali memutar waktu dan melakukan setidaknya sholat
sekali saja di akhir hidupku. Sungguh aku menyesal.
***
19 tahun yang lalu
“Assalamualaikum, ibuk…”
tampak dari luar seorang anak perempuan berumur 7 tahun dengan jilbab kuningnya
berlari menuju dapur. Wajahnya sumringah, senyumnya lebar terpaut polos di
mimik muka anak-anak yang ceria pada umumnya. Wajar saja hari ini adalah hari
pertama dia ngaji Qur’an setelah 1 tahun mengaji Iqra yang sampe 6 jilid itu.
Pencapaian luar biasa untuk gadis kecil tomboy seperti dia karena hampir tiap
sore selalu menangis bila di suruh ngaji.
“Wa’alaikum salam… ono
opo tha Nduk?”
“Ratri sudah ngaji
Qur’an bu. Kata Bu Kaji di suruh beli Qur’an baru biar semangat ngajinya.
Beliin ya buk…”
“Iya, besok beli sama
Ibuk di pasar ya, sama kamu, biar Ratri milih sendiri”
“Horeee… buk sekalian
beliin galundeng ya buk, sama gethuk juga, oiya sama jenang candil ya buk..”
“Iyaa.. sana wudhu
dulu, sudah adzan Isya. Sholat terus makan..”
Segera gadis kecil itu
berlari menuju pancuran di belakang rumahnya. Walaupun belakang rumahnya sudah
termasuk kebun Ratri kecil tidak takut sama sekali seperti anak-anak kecil
lainnya yang takut dengan genderuwo ataupun wewe gombel. Kata Ibuknya setan itu
takut sama orang yang rajin sholat jadi ia pun memprcayainya. Lekas-lekas ia
menyelesaikan wudhunya karena nyamuk-nyamuk kebun semakin ganas menyerangnya.
Dipintu depan sepertinya Bapak sudah keluar menuju musholla untuk menunaikan
sholat isya, ya setiap sholat magrib dan isya Pak Tarno sering kali berjamaah
di mushola dekat rumahnya, sesekali Ratri sering ikut, namun ibuk sering
melarang karna ia sering membuat rebut musholla dengan celotehan khas anak kecil.
“Dari pada di marahin orang” katanya.
Seusai menunaikan
kewajibannya dan makan malam ia kini menghampiri ibunya yang tampak sibuk
menjahit pakaian bapak yang kancingnya mulai lepas. Bersandarlah Ratri kecil di
pundak ibunya dan mulai bercerita..
“Bu, tadi siang di
sekolah Bu Guru ngasih tugas di suruh nulis cita-cita di masa depan Buk”
“Terus Ratri nulis
cita-citanya jadi apa?” selidik ibuk, ya karena ibuk sendiri belum tau apa yang
di cita-citakan anaknya.
“Nggak Ratri isi buk”
“Lho kenapa?” terheran
heran ibuk melihat air muka Ratri yang tampak mulai menangis.
“Wong Ratri ngga tau
mau jadi apa besok besar nanti..” mulai merah lah hidungnya dan sedikit mulai
sedikit matanya mulai keluar air mata. Kegundahan anak umur 7 tahun yang
bingung akan cita-citanya sendiri.
Kini gantian ibuk yang
berkerut, tidak biasanya anak perempuannya yang tomboy ini menangis akan
hal-hal sepele seperti ini.
“Bukannya anak ibuk ini
pinter, bisa apa saja, di kelas aja selalu dapet rengking, masa gitu doang
nangis?”
“Tt..tapii sebenarnya
Ratri punya cita-cita Buk, tapi Ratri ragu, soalnya teman-teman Ratri
cita-citanya tinggi semua, mau jadi dokter, guru, insinyur… tapi Ratri ngga..”
“Emang Ratri mau jadi
apa?”
“Mau jadi penjahit kaya
ibuk.”
Ibu tersenyum dan
memeluk anak perempuannya itu.
“Emang ada yang salah
nduk kalau jadi penjahit? Rejeki itu sudah ada yang ngatur. Siapa tau nanti
kalau besar Ratri benar-benar jadi penjahit kehidupannya lebih baik dari
temannya yang jadi insinyur, ngga tau kan? Kalau Ratri cita-citanya mau jadi
penjahit Ibuk dukung, siapa tau nanti Ratri lebih sukses dan hidup enak dari
pada sekarang ya nak…”
Dan mulai saat itu
Ratri kecil sudah mulai bertekad dengan cita-citanya. Ambisinya besar melalui
harapan sang Ibu, hingga cita-citanya menjadi seorang penjahit sekaligus
designer ternama kini sudah tercapai. Namun sepertinya ia mulai melupakan
sesuatu. Lupa bahwa semua itu berkat doa ibunya dan meninggalkan dunia ini
dengan penuh penyesalan…

No comments:
Post a Comment